Kamu adalah yang tak usai dimakan usia;
sajak yang tak habis dilahap senja.
Seperti kehampaan yang sengaja tak dibiarkan penuh
Seperti kekosongan yang menakdirkan diri setia pada yang tak terisi
Seperti hidup yang menunggu mati
Terima saja kenyataan: kita tak pernah bertemu di satu titik nadir
Mengucap sumpah senyawa-sejiwa, sembari tak henti bersitegang tentang apa…
Jari mu kini mungkin semakin bergetar untuk menggapai setiap jangkauan benda,
Rambut hitam mu perlahan berganti dengan putih, namun aku tahu itu tetap berkilau,
kerut dahi mu semakin tampak, kulit mulus mu perlahan pudar
namun kasih sayang dan cinta mu untuk kami kedua anak mu tidak akan pernah pudar termakan usia,
engkau panutan ku dalam menapaki setiap kehidupan ini, mama
nama mu selalu terucap lebih dulu dalam setiap alunan do’a yang ku panjatkan pada Illahi
cinta ku mungkin tak sebesar cinta yang kau miliki, mama
namun aku tekad kan untuk membahagiakan mu suatu saat nanti,
ketika jemari tak dapat berjabat setiap detik,
ketika mata tak berpandang skelebat pun dalam satu hari,
aku yakin nama ku akan selalu kau sebut dalam lantunan kata indah penuh do’a yang kau alunkan,
ucap mu serupa nada surga, mama
aku sangat mencintai seluruh yang ada dalam raga dan jiwa mu,
hanya ini yang mampu aku lakukan, terimakasih atas kasih mu,
Selamat Ulang Tahun Mama Ida ku, semoga Illahi tetap memberkati mu dengan cinta yang lebih besar dari apa yang mampu aku berikan
4 Mei 2012
Anak mu,
Citra Dinda Pratamiayu